Bulan Rabiul Awal selalu terasa istimewa bagi banyak umat Islam. Bukan karena ada perayaan tertentu yang harus diperdebatkan, tapi karena di bulan inilah Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan ke dunia. Salah satu hal paling lazim dilakukan umat di momentum ini adalah memperbanyak shalawat. Dan kalau kita mau telusuri, anjuran bershalawat itu bukan sekadar tradisi turun-temurun. Akarnya ada langsung di dalam Al-Qur'an.
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
Artinya: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab [33]: 56)
Ayat ini dari Surah Al-Ahzab ayat 56. Bacanya memang singkat, tapi kandungannya luar biasa dalam. Allah SWT membuka ayat ini dengan pernyataan yang membuat hati siapa pun terenyuh: Dia sendiri bershalawat kepada Nabi, kemudian para malaikat juga bershalawat, barulah setelah itu Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk turut bershalawat dan mengucapkan salam.
Urutannya bukan kebetulan. Allah menempatkan diri-Nya paling dulu, lalu malaikat, baru umat. Ini menunjukkan betapa tinggi kedudukan Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah. Bayangkan, Sang Pencipta langit dan bumi — yang tidak membutuhkan siapa pun — secara eksplisit menyebut bahwa Dia memberikan rahmat dan pujian kepada seorang hamba-Nya. Itu bukan sekadar penghormatan; itu penegasan kedudukan istimewa yang tidak dimiliki oleh selain beliau.
Apa makna shalawat dari masing-masing pihak?
Mufasir menjelaskan bahwa shalawat dari Allah bermakna pemberian rahmat. Sedangkan shalawat dari para malaikat bermakna permohonan ampun — mereka beristighfar untuk Nabi. Lalu shalawat dari umat? Itu bermakna doa dan bentuk pengagungan kita kepada beliau. Jadi satu kata "shalawat" membawa makna yang berbeda tergantung siapa yang melakukannya. Dari Allah: rahmat. Dari malaikat: istighfar. Dari kita: doa dan penghormatan.
Perintah "shollu 'alaihi wa sallimu tasliman" ini juga bukan anjuran biasa. Ini perintah langsung dari Allah. Makanya para ulama sepanjang masa sangat menyarankan untuk memperbanyak shalawat, dan salah satu momentum yang paling akrab di hati umat adalah bulan kelahiran Nabi. Bukan karena di bulan itu shalawatnya lebih bernilai dari bulan lain, tapi karena momentumnya mengingatkan kita kembali kepada sosok yang kita kasihi.
Cara bershalawat sesuai ayat ini sebetulnya sederhana. Cukup mengucapkan "Allahumma shalli 'ala Muhammad". Bentuk yang lebih lengkap dan diajarkan dalam syariat adalah Shalawat Ibrahimiyah — yang kita baca setiap kali duduk tasyahud akhir dalam shalat. Isinya memohon agar Allah memberikan rahmat kepada Muhammad sebagaimana Allah memberikan rahmat kepada Ibrahim, dan memberikan berkah kepada Muhammad sebagaimana memberikan berkah kepada Ibrahim.
Hal yang menarik dari ayat ini adalah Allah tidak hanya menyuruh kita bershalawat, tapi juga mengucapkan salam. "Wa sallimu tasliman" — ucapkanlah salam kepadanya. Jadi shalawat dan salam itu beriringan. Keduanya adalah bentuk cinta kita kepada Rasulullah ﷺ, dan cinta itu bukan sekadar perasaan di hati — Allah memberikan format konkret bagaimana wujudnya.
Momen seperti bulan Rabiul Awal ini cocok dijadikan titik balik bagi siapa saja yang merasa jarang bershalawat. Tidak perlu menunggu acara besar. Cukup di waktu-waktu senggang, sambil menyetir, sambil berjalan, sebelum tidur — ucapkan shalawat. Sedikit demi sedikit, terbiasa. Dan kalau Anda ingin sekaligus mendengarkan dan menghafal ayat-ayat Al-Qur'an termasuk ayat-ayat yang berbicara tentang keutamaan Nabi, Anda bisa coba langsung playlist Juz Amma di AtomicQuran — aplikasinya memudahkan kita mengulang ayat per potongan waqaf dengan audio murattal, jadi pas untuk diingat pelan-pelan sambil melantunkan shalawat.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ dan senantiasa bershalawat kepadanya, hingga kelak beliau memberikan syafaat di hari yang tiada berguna lagi harta dan keturunan kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.