Mengenal Shalawat Ibrahimiyah dan Shalawat Asyghil: Teks, Arti, dan Makna

Mengenal Shalawat Ibrahimiyah dan Shalawat Asyghil: Teks, Arti, dan Makna

Banyak dari kita hafal bunyi selawat sejak kecil. Mulut terbiasa mengucapkannya, jari sudah otomatis menunjuk saat tasyahud. Tapi kalau ditanya apa sebenarnya yang kita pinta dalam selawat itu, jawabannya kadang tertegun. Padahal selawat adalah doa, dan doa akan terasa berbeda di hati kalau kita tahu maknanya. Bukan sekadar menggerakkan lidah, tapi benar-benar memahami kata per kata yang keluar.

Kali ini kita kenal dua selawat yang sangat populer di kalangan umat Islam Indonesia: Shalawat Ibrahimiyah dan Shalawat Asyghil. Keduanya sering dibaca, tapi latar belakangnya berbeda satu sama lain.

Shalawat Ibrahimiyah

Selawat ini adalah yang paling sering kita baca, yaitu pada tasyahud akhir dalam shalat — baik shalat fardhu maupun sunnah. Setelah mengucapkan tahiyat, kita melanjutkan dengan selawat ini sebagai penutup sebelum salam.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Allāhumma shalli 'alā sayyidinā Muhammadin wa 'alā āli sayyidinā Muhammad, kamā shallayta 'alā sayyidinā Ibrāhīma wa 'alā āli sayyidinā Ibrāhīm, wa bārik 'alā sayyidinā Muhammadin wa 'alā āli sayyidinā Muhammad, kamā bārakta 'alā sayyidinā Ibrāhīma wa 'alā āli sayyidinā Ibrāhīm, fil 'ālamīna innaka Ḥamīdun Majīd.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau limpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya. Limpahkanlah pula keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau limpahkan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya, di seluruh alam semesta. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Disebut "Ibrahimiyah" karena isinya secara eksplisit menyebut nama Nabi Ibrahim AS. Kita memohon kepada Allah agar memberikan rahmat dan keberkahan kepada Nabi Muhammad ﷺ beserta keluarganya, sebagaimana rahmat dan keberkahan yang telah diberikan kepada Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Ada keterikatan yang indah di sini: dua nabi besar, dua keluarga yang dimuliakan, dihubungkan dalam satu doa yang kita baca setiap hari.

Keluarga Nabi Muhammad ﷺ yang disebut dalam selawat ini merujuk pada istri-istri, keturunan, serta para sahabat dari kalangan kerabat beliau. Pemilihan Nabi Ibrahim sebagai perbandingan pun sangat bermakna, sebab beliau adalah bapak para nabi, sosok yang keluarganya menjadi fondasi banyak keturunan nabi sesudahnya. Jadi ketika kita berdoa dengan kalimat "sebagaimana Engkau memberkati keluarga Ibrahim", itu bukan perbandingan sembarangan — itu adalah doa dengan standar keberkahan tertinggi yang pernah ada dalam sejarah kemanusiaan.

Selawat Ibrahimiyah juga mengandung penegasan bahwa Nabi Muhammad ﷺ memang layak dimuliakan. Kalimat "sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung" di awal dan akhir selawat ini membingkai seluruh permohonan kita dengan pengakuan akan kebesaran Allah. Kita tidak sekadar meminta, kita mengakui siapa yang kita mintai dan kepada siapa kita meminta.

Shalawat Asyghil

Berbeda dengan Ibrahimiyah yang berakar dari hadis dan dibaca dalam shalat, Shalawat Asyghil memiliki latar belakang sejarah yang spesifik. Selawat ini diciptakan oleh Ja'far bin Muhammad Ash-Shadiq, seorang keturunan Ali bin Abi Thalib yang hidup pada masa Dinasti Bani Umayyah.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Allāhumma shalli 'alā sayyidinā Muhammad, wa asyghilizh-zhālimīna bizh-zhālimīn, wa akhrijnā min bainihim sālimīn, wa 'alā ālihī wa shahbihī ajma'īn.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad. Sibukkanlah orang-orang zalim dengan sesama orang zalim, dan selamatkanlah kami dari (kejahatan) mereka, serta limpahkan pula rahmat kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.

Konteksnya berat. Pada masa itu, keturunan Ali bin Abi Thalib menghadapi penindasan dari penguasa Bani Umayyah. Ja'far Ash-Shadiq menyusun selawat ini sebagai doa sekaligus pelindung. Makna intinya adalah permohonan agar orang-orang zalim disibukkan oleh sesama orang zalim — sehingga mereka tidak punya waktu dan kesempatan untuk menzalimi orang lain. Doa yang cerdas dan penuh makna: bukan membalas dengan kekerasan, tapi memohon kepada Allah agar kejahatan mereka berbalik menimpa diri mereka sendiri.

Selain itu, selawat ini juga berisi permohonan keselamatan. Di tengah situasi penuh ancaman, doa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan itu datangnya dari Allah, bukan dari kekuatan manusia.

Shalawat Asyghil kemudian tumbuh menjadi puji-pujian yang populer dibaca setelah azan dan sebelum iqamah. Di Indonesia, selawat ini mendapat sorotan yang lebih luas ketika ditampilkan pada acara puncak Peringatan 1 Abad NU tahun 2023. Banyak orang yang sebelumnya tidak familiar langsung tertarik untuk mempelajari teks dan maknanya.

Membaca dengan Paham, Bukan Sekadar Hafal Bunyi

Dua selawat di atas mengajarkan satu hal yang sama: doa yang baik adalah doa yang dipahami. Shalawat Ibrahimiyah mengingatkan kita akan silsilah keberkahan para nabi. Shalawat Asyghil menunjukkan bagaimana doa bisa menjadi senjata orang yang tertindas. Keduanya lahir dari konteks berbeda, tapi sama-sama mengandung kepasrahan kepada Allah.

Kalau Anda ingin memperdalam hafalan Al-Qur'an sambil terus memperkuat amalan harian, coba langsung AtomicQuran yang memudahkan murajaah dengan pemutaran ayat per tanda waqaf dan audio murattal Syekh Ayman Rusydi Suwaid. Hafalan jadi lebih tertata, dan waktu untuk mengulang selawat pun tetap terjaga.

Semoga kita termasuk orang yang membaca selawat dengan hati yang hadir, memahami setiap kata yang diucapkan, dan dianugerahi syafaat dari Rasulullah ﷺ di hari kelak. Amin.